Pdt. Petrus Octavianus dilahirkan pada 29 Desember 1928 di Dusun Laes, Desa Oelasin, Kecamatan Rote Barat daya, Rote-Ndao, Nusa Tenggara Timur.  Beliau berasal dari keluarga miskin di Pulau Rote dan merupakan anak ketujuh dari pasangan Jeremias Octavianus dan Paulina Pandie.  Pada Maret 1930, ayahnya meninggal dunia.  Beliau belum sempat mengenal ayahnya, karena tidak ada selembar fotopun yang memuat wajah ayahnya.  Beliau hanya dapat berjumpa dengan ayahnya dalam cermin, sebab menurut ibunya, wajah pak Octav mirip dengan wajah ayahnya.

Sejak kecil, pak Octav menggembalakan domba milik keluarganya.  Hanya oleh kemurahan Tuhan, pak Octav dapat menikmati bangku sekolah.  Tantenya, Elizabeth Octavianus (yang menikah dengan Joseph Mooy, dan yang menjadi orang tua Prof. Dr. Adrianus Mooy, mantan Gubernur Bank Indonesia) merupakan orang yang dipakai Tuhan untuk menyekolahkan beliau.  Pada usia 9 tahun, beliau masuk ke kelas I di sebuah sekolah desa, dan tinggal bersama keluarga Mooy (paman dan tantenya).  Karena disiplin yang keras dari keluarga Mooy, pak Octav termotivasi untuk giat belajar, sehingga sering loncat kelas.

Setelah tamat dari sekolah desa tersebut, beliau melanjutkan sekolah lanjutan sambil bekerja.  Beliau pernah berjualan kayu bakar, air minum dan kue.  Pada suatu waktu, saat menimba ilmu di Surabaya, beliau pernah bekerja sebagai pemulung dengan mengais kaleng susu bekas, sambil mengenakan seragam sekolah.  Hal ini menyebabkan seorang wanita Sunda bernama ibu Kadar-istri Kapten Kadar (seorang Kepala Kantor Departemen Sosial Surabaya) menaruh simpati, dan menampungnya di sebuah panti asuhan di jalan Embong Malang, Surabaya.  Pak Octav berada di panti asuhan tersebut selama 10 bulan (Juli 1940-Mei 1941).  Karena itu, terdorong rasa syukur kepada TUhan, dan dalam rangka turut memenuhi amanat UUD 1945 pasal 34 (Fakir miskin dan anak yang terlantar dipelihara negara), maka dari tahun 1960-2007, beliau mendirikan pelayanan sosial yang mencakup Panti Asuhan dan Anak Asuh di bawah naungan Yayasan Pelayanan Pekabaran Injil Indonesia Batu.  Pelayanan sosial tersebut menampung total 37.000 anak, mulai dari Aceh sampai Papua, dari Sangir Talaud sampai Pulau Rote, NTT.  Pada tahun 2001, panti asuhan yang didirikannya juga menampung korban kerusuhan Ambon dan Poso.  Ada sekitar 654 anak asuh dan 83 anak Panti Asuhan yang dilayani YPPII BATU.

Pak Octav pernah menjabat sebagai Direktur Guru Sekolah Atas (SGA) Kristen dan Sekolah Menengah Atas (SMA) Kristen, juga Akademi Pendidikan Guru Nasional di Malang.  Pak Octav belajar filsafat klasik dari Romo Klavert di Seminari Agung Katolik Batu, beliau juga belajar tentang filsafat eksistensialisme dari Prof. Beerling di Universitas Indonesia, dan belajar antropologi filsafat dari Prof. Obolensky.

Selain belajar filsafat, beliau juga mempelajari kehidupan politik.  Latar belakang kehidupan politik
pak Octav dimulai saat pertemuan beliau dengan Presiden RI yang pertama, Ir. Soekarno (Bung Karno), pada 01 Juni 1950 di Surabaya dan 26 September 1954 di Malang.  Sejak itu, bung Karno menjadi idola dan pemberi inspirasi serta motivasi bagi pak Octav dalam mempelajari perkembangan politik di Indonesia.  Minatnya dalam bidang politik, membuat pak Octav mengamati perpolitikan di 80 negara yang dikunjunginya.

Dalam bidang kerohanian, pak Octav belajar dari Joseph Mooy, seorang Guru Injil keliling di daerah Baa dan Kupang.  Selanjutnya, beliau belajar melayani di Ambon dan Surabaya.  Sejak 1951, beliau secara part-time melayani undangan khotbah oleh gereja-gereja di Bandung, Jakarta, dan Malang. Pada 01 Agustus 1957, pak Octav untuk pertama kali aktif pelayanan keluar secara luas bersama tim pelayanan Rev. Heini Germann Edey (misionaris WEC).  Mereka melayani di pasar-pasar, lapangan-lapangan, jalan-jalan, dan stasiun-stasiun.  Dari situlah cikal bakal lahirnya YPPII.  Pelayanan-pelayanan tersebut juga membuat beliau meninggalkan semua jabatan dan kenyamanan, dan memutuskan untuk melayani secara full-time pada 25 Juni 1959.
Tahun 1957-1968, pak Octav melayani Tuhan di Indonesia (Sabang sampai Jayapura, Manado sampai Rote, NTT), dengan dukungan dari keluarga Joseph Mooy dan keluarga Esther Merukh-Bessie (ibunda DR. Jusuf Merukh-raja tambang Indonesia).  Tahun 1968-2002, beliau melayani di 80 negara di lima benua. Karena cintanya pada Indonesia, maka beliau selalu membawa peta Indonesia dan bendera Merah Putih, dengan tujuan memperkenalkan Indonesia kepada bangsa dan Negara lain.  Karena kiprah dan pemikirannya tersebut, maka pada tahun 1983-1985 dan tahun 1985-1986, beliau terpilih sebagai salah satu tokoh di Indonesia, dalam buku berjudul APA DAN SIAPA SEJUMLAH ORANG INDONESIA.

Oleh kemurahan Allah dan tekun belajar, maka sejak tahun 1968 hingga sekarang, beliau telah menghasilkan buku sebanyak 56 judul, 34 buku dalam bahasa Indonesia, 21 buku dalam bahasa Inggris, dan 1 buku dalam bahasa Jerman (diterjemahkan dari bahasa Indonesia).  Melalui pemikiran, kiprah, dan pelayanannya, beliau telah mendirikan dan memimpin 17 lembaga (12 lembaga Nasional dan 5 lembaga Internasional).  Beliau mendirikan rumah karyawan, rumah sakit, pendidikan tinggi Theologia, dan sekolah-sekolah TK, SD, SMA, dan Universitas “Cipta Wacana”.  Karena kesetiaan dan ketekunan dalam melayani, belajar, dan menulis buku, pak Octav memperoleh penghargaan baik di bidang akademis maupun dari berbagai LSM dan pemerintah berbagai Negara, antara lain: penghargaan “ASEAN BEST ENTREPRENEUR GOLDEN AWARD 2006” pada Jumat, 15 Desember 2006.

Sebagian dari riwayat hidup pak Octav telah difilmkan oleh Billy Graham Association.  Film ini telah disaksikan oleh 10.385 tokoh agama dari berbagai negara di Konferensi “Amsterdam 2000”, 29 Juli 2000 di Amsterdam.  Pada saat menyaksikan film tersebut, beliau menitikkan air mata, karena terharu. Betapa tidak, karena nyata ANUGERAH TUHAN LEBIH BESAR DARI KEMISKINAN.

Semoga Tuhan dipermuliakan, bangsa dan negara Indonesia diberkati, menjadi negara jaya dan adidaya. Itulah doa dan perjuangannya melalui tulisan-tulisannya.